The Difference of Prevalence of Using Iodium Salt In Household And Growth of Stature of Students In Beringkit Belayu Village And Batannyuh Village Marga District Tabanan Regency
DOI:
https://doi.org/10.33992/jig.v9i1.793Abstract
The use of iodized salt is very important to prevent disruption due to lack of
iodized salt and affect the growth height of students. Beringkit Belayu Village has organized a socialization of the use of iodized salt through distribution at the posyandu every month, while other villages have not yet socialized the use of iodized salt. The aims of this study was to determine the differences of prevalence of using iodium salt in household and growth height of students in Beringkit Belayu Village and Batannyuh village Marga district Tabanan regency. This research is a observasional study with a cross sectional approach and we got the sample total are 65 samples. We used chi square and t-test to analyzed data. Based on the results of the analysis, it is known that: there is a difference in the prevalence of iodized salt use in households in Beringkit Belayu and Batannyuh villages (p = 0.006) and there are no differences in height growth for studets in Beringkit Belayu village and Batannyuh village (p=0.83).
Â
Keywords: house hold, students, iodized salt, growth of stature
References
Adriani, M., & Wiratmaji, B. (2012). Peranan Gizi Dalam Siklus Kehidupan (Pertama). Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. (2013). Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013. Laporan Nasional 2013, 1–384. https://doi.org/1 Desember 2013
Blair, R. ., & Taylor, R. . (2008). Biostatistics for Health Sciences. Upper Saddle River: Pearson Prentice Hall.
Departemen Kesehatan. (2003). Buku petunjuk teknis lapangan, evaluasi proyek intensifikasi penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium. Jakarta: Direktorat Bina Gizi Masyarakat.
Depkes RI. (2000). Pedoman Distribusi Kapsul Minyak Beryodium. Direktorat Bina Gizi Masyarakat.
Depkes RI. (2004). Peningkatan Konsumsi Garam Beryodium. Direktorat Bina Gizi Masyarakat.
Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan. (2016). Kabupaten Tabanan Tahun 2015 Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan Tahun 2016.
Dinkes Kabupaten Tabanan. (2017). Profil Kesehatan Kabupaten Tabanan Tahun 2016, 71–73.
Gibney, J., M., Margetts, M., B., Kearney, M., J., & Lenore, A. (2009). Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Guyton, & Hall. (2008). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran (12th ed.). Jakarta: EGC Medical Publisher.
Hetzel, B. (1996). S.O.S. for a billion – The nature and magnitude of the iodine deficiency disorders.
Kementerian Kesehatan. (2010). SK Antropometri 2010. Direktorat Bina Gizi.
Kozier, Erb, Berman, & Snyder. (2010). Buku Bahan Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, & Praktik (7th ed.). Jakarta: EGC.
Mabruroh, F., Mulyani, E. Y., & Afif, I. (2011). Perbedaan tinggi badan anak sekolah dasar yang mengonsumsi iodium di jakarta utara.
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Soekirman. (1999). Besar dan karakteristik masalah gizi Di Indonesia. Jakarta: Akademi Gizi. Depkes RI.
Sudarto. (2012). Penanggulangan Gaky Melalui Peningkatan Kualitas Produksi Dan Distribusi Garam Beryodium. Non Publication, XIII(2).
Sugiyono. (2007). Statistika untuk Penelitian. Bandung: CV Alfa Beta.
Supariasa, I. D. N., Bakri, B., & Fajar, I. (2012). Penilaian Status Gizi. (M. Ester, Ed.). Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
The WHO Child Growth Standard. (2007). World Health Organization. Retrieved from http://www.who.int/childgrowth/en/
WHO. (2001). Assesment of Iodine Deficiency Disorders and MonitoringTheir Elimination.
Widiastuti, N. K. (2015). Upaya Meningkatkan Konsumsi Garam Beryodium Di Provinsi Bali Melalui Kebijakan Berwawasan Kesehatan : Surat Edaran Gubernur Bali Nomor : 440 / 2541 / Kesmas . Diskes , Tanggal 16 Februari 2015 Tentang Peningkatan Konsumsi Garam Beryodium Sebagai Upaya Pen.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
Citation Check
License
- Penulis menyimpan hak cipta dan memberikan jurnal hak penerbitan pertama naskah secara simultan dengan lisensi di bawah Creative Commons Attribution License yang mengizinkan orang lain untuk berbagi pekerjaan dengan sebuah pernyataan kepenulisan pekerjaan dan penerbitan awal di jurnal ini.
- Penulis bisa memasukkan ke dalam penyusunan kontraktual tambahan terpisah untuk distribusi non ekslusif versi kaya terbitan jurnal (contoh: mempostingnya ke repositori institusional atau menerbitkannya dalam sebuah buku), dengan pengakuan penerbitan awalnya di jurnal ini.
- Penulis diizinkan dan didorong untuk memposting karya mereka online (contoh: di repositori institusional atau di website mereka) sebelum dan selama proses penyerahan, karena dapat mengarahkan ke pertukaran produktif, seperti halnya sitiran yang lebih awal dan lebih hebat dari karya yang diterbitkan. (Lihat Efek Akses Terbuka).