PERBEDAAN STUNTING BERDASARKAN PENGETAHUAN GIZI IBU DAN ASUPAN ZAT GIZI BALITA DI KECAMATAN UBUD
DOI:
https://doi.org/10.33992/jig.v8i2.685Abstract
The stunting prevalence in Ubud Subdistrict is 28.6% where Ubud is a world tourist destination in Bali, but there are still stunting occurrences in the region. The study aimed to determine the differences in the incidence of stunting based on knowledge of maternal nutrition and nutrient intake in infants in the District of Ubud. The type and design of the study were observational with a cross sectional study design. The total population is 3766 toddlers with 50 samples. Stunting data was taken by measuring the height / length of the body, knowledge obtained by means of interviews using questionnaires and intake of toddlers obtained by doing 2x24 hour recall. A total of 36.0% experienced stunting while 64.0% did not stunting. The average knowledge of maternal nutrition is 60.12%. The average energy intake of toddlers is 1066.08 kcal, protein 26.36 gr and calcium 583.48 mg. The results of the analysis showed that there were differences in the incidence of stunting based on maternal nutrition knowledge (p = 0,000), there were differences in the incidence of stunting based on energy intake (p = 0,002), there were differences in the incidence of stunting based on protein intake (p = 0,015) and differences in intake of stunting calcium (p = 0.026).
Key Words: stunting, knowledge, nutrient intake
References
Muniroh L. Hubungan tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan dan pola asuh ibu dengan wasting dan stunting pada balita kelurahan miskin. 2015:84-90.
UNICEF. the state of the word’s children. 1998.
Anasiru mohamad anas, Domili I. pengaruh asupan energi dan protein, pola asuh dan status kesehatan terhadap kejadian stunting pada anak usia 12-36 bulan di puskesmas tilango kecamatan tilango kabupaten gorontalo. Heal Nutr J. 2017;IV.
Anisa P. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 25-60 Bulan di Kelurahan Kalibaru Depok Tahun 2012. Fak Kesehat Masy Univ Indones. 2012.
Lubis FSM, Cilmiaty R, Magna A. Hubungan BeberapaFaktor dengan Stunting pada Balita Berat Badan Lahir Rendah. 2018:13-18.
Sari PN, Sumarmi S. Perbedaan Pola Pemberian Makan Batita Diasuh Ibu Dan Selain Ibu Difference of Feeding Pattern between Toddler Who Mother ’ s and Other ’ s. 2017:98-104.
Almatsier S. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama; 2009.
Aditianti. Faktor Determinan Stunting pada Anak Usia 24 – 59 Bulan di Indonesia. Tesis. J Gizi dan Pangan IPB. 2010.
Azria CR, Husnah. Pengaruh Penyuluhan Gizi Terhadap Pengetahuan dan Perilaku Ibu Tentang Gizi Seimbang Balita Kota Banda Aceh. 2015:87-92.
Supariasa IDN, Bakri B, Fajar I. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC; 2001.
Wasaraka YNK, Prawirohartono EP, Soenarto Y. Perbedaan proporsi stunting pada anak usia 12-24 bulan berdasarkan pemanfaatan pelayanan posyandu di Kabupaten Jayapura , Papua. Gizi Klin Indones. 2015;12(2):72-78.
Damayanti RA, Muniroh L, Farapti. Perbedaan Tingkat Kecukupan Zat Gizi dan Riwayat Pemberian ASI Eksklusif pada Balita Stunting dan Non Stunting. 2016:61-69.
Aprilitasari AH. Perbedaan Asupan Zink (Zn) dan Kalsium (Ca) antara Anak Balita Stunting dan Non Stunting di Kelurahan Panularan Kota Surakarta. 2017.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
Citation Check
License
- Penulis menyimpan hak cipta dan memberikan jurnal hak penerbitan pertama naskah secara simultan dengan lisensi di bawah Creative Commons Attribution License yang mengizinkan orang lain untuk berbagi pekerjaan dengan sebuah pernyataan kepenulisan pekerjaan dan penerbitan awal di jurnal ini.
- Penulis bisa memasukkan ke dalam penyusunan kontraktual tambahan terpisah untuk distribusi non ekslusif versi kaya terbitan jurnal (contoh: mempostingnya ke repositori institusional atau menerbitkannya dalam sebuah buku), dengan pengakuan penerbitan awalnya di jurnal ini.
- Penulis diizinkan dan didorong untuk memposting karya mereka online (contoh: di repositori institusional atau di website mereka) sebelum dan selama proses penyerahan, karena dapat mengarahkan ke pertukaran produktif, seperti halnya sitiran yang lebih awal dan lebih hebat dari karya yang diterbitkan. (Lihat Efek Akses Terbuka).